Welcome to all passangers! Read carefully, enjoying with my mind!

Selamat datang di blog saya. Apakah anda pernah merasakan manisnya jatuh cinta? Di saat anda merasakan perasaan seperti itulah, anda harus bersiap diri untuk merasakan kepahitannya.

Kamis, 08 Maret 2018

Belajar Menghargai Profesi Seseorang

Selamat siang semuanya. Apa kabar kalian? Jaga kesehatan, jangan lupa makan yang teratur, olahraga, jangan sampai kecapekan dan akhirnya sakit. Apalagi cuaca yang lagi nggak menentu banget. Pagi dingin, siang terik, sore sampai malam hujan deras. Nah kalau udah hujan-hujan seperti ini, bawaannya pengen makan, tidur, makan, tidur terus. Akhirnya badan nggak terkontrol dan naik 10 kilogram deh. Ya ini aku lagi mengalami dimana berat badan naik 10 kilogram dalam waktu 2 bulan. Selain jarang olahraga, emang nafsu makannya parah banget sih. Pokoknya aku harus diet dan besok mulai olahraga lagi. Janji yang (semoga) tak teringkari untuk kesekian kalinya. Eh tapi jangan salah loh ya meskipun akhir-akhir ini rajin makan, tidur, makan, tidur, aku tuh juga lagi rajin banget buat menulis sekaligus mengutarakan pendapat. Nggak tau deh, ntar sore pas akhir bulan gimana. Kali ini aku mau membahas sekaligus sedikit menyentil kalian yang hobinya suka gratisan. Hah maksudnya?

Gratisan di sini maksudnya adalah menginginkan sesuatu tanpa mengeluarkan uang sepeser pun dari profesi teman kalian. Aduh gimana ya bahasanya. Kok jadi bingung sendiri. Aku langsung kasih contoh nyatanya aja deh. Jujur ya ini pengalaman pribadi yang aku tuang di blog pribadiku.

Anggaplah aku adalah seorang desainer gambar amatiran down grade level. Suatu saat si teman ini menghubungiku untuk membuatkan desain CV. Tau dong CV apaan. Itu loh yang sering buat masukin lamar kerjaan.

Teman: Hai, bisa buatin aku CV nggak?
Aku: Bisa. Kayak gimana modelnya?
Teman: Terserah kamu aja deh yang penting CV aja gitu.
Aku: Ok. Oh ya ntar tolong isikan informasi pribadi, deskripsi tentang saya, pendidikan, skill, pengalaman, dll.
Teman: Kamu aja deh yang buatin. Aku nggak tau.

Salah seorang teman memintaku untuk membuatkan CV namun dia sendiri tidak tahu bagaimana mendiskripsikan dirinya sendiri. Aku tekankan lagi, dia tidak tahu bagaimana cara menulis bagian deskripsi "tentang saya". Ya kesel nggak sih? Dikiranya dukun kali. Bisa nerawang seseorang. Okelah konsep CV aku yang buat, tapi kalau sampai masalah detail seperti about me, skill, experiences, education background, bahkan sampai personal information saja dia nggak tahu gimana cara nulisnya, ya gimana mau buatin CV? Kosongan gitu? Hah?! Ngerti nggak sih?

Kasus seperti ini masih berkelanjutan sampai bikin emosi. Mungkin jika kalian mengalami apa yang aku alami ini sepertinya juga yah... sedikit ditaburi bumbu-bumbu emosi jiwa. Singkat cerita desain CV beserta isi-isinya sudah selesai aku buat. Aku kirim via WA dan meminta teman tersebut untuk mengoreksinya. Aku yakin pasti akan ada banyak revisian, mengingat si teman ini adalah sosok yang rempong yang ah abcdef deh pokoknya.

Maklum lah ya nggak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pula dengan desain CV yang sudah kubuat. Ada banyak revisi yang jatuhnya justru kayak, ini bukan CV kamu, tapi ini adalah CV milikku. Kenapa? Si teman memintaku untuk menambahkan kata-kata pada bagian deskripsi "tentang saya". Kepalang udah nggak mau berdebat sana-sini lagi, akhirnya aku buat sendiri sesuai dengan keinginanku. Nah dari sini muncul istilah, ini bukan CV kamu, tapi ini adalah CV milikku. Revisi demi revisi aku lalui. Hingga akhirnya sampai ke revisi terakhir dan muncul lah file berjudul CV Fix. File tersebut langsung aku kirim via email si teman.

Teman: Oh ya sorry ya aku nggak bisa bayar kamu. Aku doain aja kamu semoga dapat kerjaan yang mapan, rejekinya nggak seret. Amin.
Kamu: Oh iya sama-sama. Aku doain juga CVmu gampang diterima sama perusahaan ya. Aku juga tadi buatnya asal-asalan kok.

Kesel kan? Penderitaan belum berakhir. Bahkan suatu ketika saat aku diharuskan mendapat giliran tugas untuk menjaga salah satu anggota keluarga yang sedang sakitpun, aku tetap diteror oleh pertanyaan nggak penting dari si teman. Apakah pertanyaan itu?

Teman: Eh tolong file kemarin dikecilin dong ukurannya.
Aku: Sorry, nggak bisa. Aku lagi jaga di rumah sakit. Nggak bawa laptop.
Teman: Yah.
Aku: Coba googling deh. Banyak kok tutorialnya.
Teman: Aku nggak tau caranya.
Aku: COBA DULU! INI AKU LAGI DI RUMAH SAKIT, COY!

Gokil. Nggak mau usaha dulu. Puncaknya adalah ketika si teman ini (lagi-lagi) bertanya padaku. Perihal ngeprint CV dimana. Nggak usah dibahas bagian ini. Kalian tau sendiri lah ya, ngeprint CV dimana. I know you are all smart people.

Setelah dari semua yang kalian baca ini, mungkin kelihatannya aku matre, kelihatannya apa-apa harus pake uang, kelihatannya materialistis, kelihatannya aku tipikal "sama temen kok itungan". Yah aku akuin, it's true. But come on and wake up. Ini nih yang pengen aku tekankan di tulisanku. Masih ada beberapa desainer atau profesi-profesi lain di luar sana yang seharusnya dia mendapatkan hasil dari jerih payahnya, namun hasil tersebut dibayar dengan "thanks, bro". Itupun terkadang mereka menerima dengan senyuman dan dalih pertemanan. Hey wake up again. Kalau apa-apa pake harga teman, pakai dalih pertemanan, mau makan apa? Mau makan teman sendiri?

Buat kalian yang masih suka minta gratisan dengan alasan teman sendiri, kurang-kurangi deh kebiasaan buruk tersebut. Coba untuk lebih banyak memikirkan posisi dan keadaan dari teman kalian yang sedang kalian mintai tolong. Kalian yang masih suka minta gratisan gitu sering mikir nggak sih gimana perasaan teman kalian yang saat itu hanya bisa menerima ucapan, "thanks ya, bro". Gimana lelahnya memikirkan desain agar sesuai dengan keinginan kalian wahai para gratisan. Bahkan sampai rela meluangkan waktunya hanya demi untuk menyelesaikan orderan dari para gratisan-gratisan tidak tahu malu ini. Next time, sebelum minta gratisan tolong dipikirkan lagi ya. Bisa jadi teman kalian ini memang sedang butuh uang untuk membiayai kehidupannya atau keperluan-keperluan lainnya.

Desain grafis, bukan desain gratis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar